Riset Tunjukkan Penyebab Jatuhnya Ikhwanul Muslimin di Mesir

Berita Informasi Kairo

Riset Tunjukkan Penyebab Jatuhnya Ikhwanul Muslimin di Mesir – Mohammed Morsi, Kepala negara Mesir awal yang diseleksi dengan cara demokratis, seketika tewas dikala sidang pada Juni 2019. Morsi ialah badan tua Orang islam Brotherhood ataupun Ikhwanul Muslimin (IM)– suatu golongan Islamis yang telah berdiri nyaris seera, yang naik ke tampuk kewenangan sehabis Revolusi Mesir 2011.

Riset Tunjukkan Penyebab Jatuhnya Ikhwanul Muslimin di Mesir

cairoportal.com – IM mempunyai daya politik yang pendek. Morsi digulingkan dengan kudeta pada 2013, pas satu tahun sehabis tersaring selaku kepala negara. Pemerintahan tentara terkini Mesir melaporkan kalau IM– yang aliansi politiknya memenangkan 38% suara dalam penentuan biasa 2011-– merupakan badan teroris.

Baca Juga : Mengulas Sejarah dari Parade Emas Firaun

Anggotanya sudah dibekuk, dipenjara, serta disiksa. Morsi dijatuhi ganjaran mati, walaupun hukumannya dibatalkan sehabis naik memadankan. Tumbangnya IM menegaskan kita pada tumbangnya golongan Islam yang dahulu luang kokoh dengan cara seketika: aksi Gulen di Turki.

Pada Juli kemudian, Kepala negara Turki Tayyip Erdogan memeringati balik tahun ketiga gagalnya suatu kudeta dengan mendakwa Fethullah Gulen– mantan kawan Erdogan serta atasan aksi Islam mempengaruhi– mendalangi usaha penggulingan pemerintahannya. Gulen, seseorang ahli serta malim Turki yang sudah bermukim di Amerika Sindikat( AS) sepanjang 20 tahun, dengan cara tidak berubah- ubah menyangkal keterlibatannya dalam kudeta. Beliau mendirikan suatu komunitas Islam dekat tahun 1970- an. Pada 2013, gerakannya mempunyai jutaan pendukung di semua bumi, apalagi badan alat serta sekolah di lebih dari 100 negeri, tercantum dekat 150 sekolah swasta yang didanai penguasa di AS.

The New York Times sempat melukiskan aksi itu selaku aksi mengiklankan“ visi Islam yang lebih halus.” Pada 2014, BBC mengatakan Gulen“ orang sangat berdaulat kedua di Turki” sehabis Kesatu Menteri Erdogan. Saat ini, Erdogan sudah melaporkan para pengikut Gulen selaku teroris. Mereka yang berafiliasi dengan aksi itu sudah disingkirkan serta dipenjarakan dengan cara analitis. Gimana dapat IM serta Gulenis jatuh sedemikian itu terperosok, sedemikian itu kilat?

Negeri otoriter

Riset aku mengenai Islam serta otoritarianisme membuktikan kalau kedua golongan itu merupakan korban dari campuran beresiko: negeri absolut, gagasan utopis mengenai Islam, serta federasi yang tidak bisa diharapkan. Bagus di Mesir ataupun di Turki, gerakan- gerakan Islam ini sudah berjuang buat bertahan dalam pemerintahan absolut yang seluruhnya mengendalikan aplikasi keimanan.

Kepala negara Mesir yang otokrat memahami langgar serta Al- Azhar, suatu badan pembelajaran Islam Sunni terkenal. Di Turki, suatu badan penguasa yang diucap Diyanet memantau hal agama serta menata apa itu“ Islam yang betul”. Di dasar pemerintahan kokoh yang sudah dibentuk semenjak 2013 oleh Erdogan, yang mencampurkan konservatisme religius, patriotisme, serta otoritarianisme, Diyanet sudah jadi instrumen berarti dalam pengawasan sosial.

Mengenang kondisi- kondisi politik ini, bagus IM ataupun Gulenis( pengikut aksi Gulen) mempunyai kekhawatiran hendak persekusi, apalagi semenjak mereka berdiri. Para atasan mereka, sebagian aku tanya jawab pada 2013 buat keinginan novel riset aku, berpikiran kalau mereka tidak bisa bertahan melainkan mereka sanggup mengatur badan negeri seluruhnya. Kekhawatiran itu sudah teruji, seakan suatu khianat yang dipadati dengan sendiri. Pada awal mulanya, usaha mereka buat memahami institusi negeri berjalan sedemikian itu berhasil, alhasil mereka juga menemukan respon keras. Elit politik di Turki serta Mesir berputar melawan kelompok- kelompok kokoh ini, menghasilkan mereka selaku kompetitor negeri.

Islam utopis

Beberapa besar Gulenis tidak hendak sepakat dengan analogi yang aku untuk selanjutnya ini. Pengikut Gulen menyangka diri mereka selaku banyak orang non- politis, suatu badan warga awam– amat berlainan dengan IM, suatu badan politik Islamis dengan skedul politik yang amat nyata. Memanglah betul para pengikut Gulen tidak sempat mendirikan partai politik. Tetapi federasi dini mereka dengan Erdogan– serta, setelah itu, bentrokan mereka dengan Erdogan– membuktikan kalau aksi Gulen merupakan daya yang amat politis di Turki.

Serupa perihalnya dengan IM, Gulenis mempunyai visi utopis khusus mengenai agama mereka. Kedua golongan ini memandang Islam-– walaupun dengan tipe yang berlainan– selaku pemecahan buat seluruh permasalahan di warga. Agama, untuk kelompok- kelompok ini, ialah cap biru yang wajib membimbing pemeluk Islam dalam tiap sendi kehidupan mereka, dari aturan krama dalam kamar kecil sampai aturan rezim. Peradilan, tentara, serta polisi, pula wajib“ Islami.” Dalam usaha mereka mengatur kehidupan warga di Turki serta Mesir, aksi Gulen serta IM menghasilkan kompetitor. Mereka bertapa masyarakat negeri sekuler, yang menyangkal“ Islamisasi” negeri. Mereka pula membuat marah kelompok- kelompok Islam lain, yang merasa diri mereka disingkirkan dari kewenangan.

Salah aliansi

Apalagi yang tadinya teman sudah berputar melawan kelompok- kelompok ini. Ini merupakan ciri dari permasalahan ketiga yang aku temui ikut menimbulkan tumbangnya aksi Gulen serta IM: tidak licik dalam memilah sahabat. Sebulan sehabis memenangkan penentuan kepala negara di Mesir, Morsi mengiklankan[Jenderal Abdel Fattah al- Sisi], seseorang jenderal belia, jadi Menteri Pertahanan serta Kepala Angkatan Bersenjata. Morsi beranggapan al- Sisi mempunyai kecondongan Islamis yang lumayan kokoh, alhasil ia hendak lebih berkawan dengan IM dari administratur besar yang lain dalam tentara Mesir. Satu tahun setelah itu, al- Sisi melaksanakan kudeta yang menggelindingkan Morsi. Beliau setelah itu, melaporkan IM selaku teroris.

IM sudah melaksanakan kekeliruan ini tadinya. Pada 1950- an, mereka yakin kalau Gamal Abdel Nasser– arsitek tentara revolusi Mesir tahun 1952– merupakan badan IM. Namun sehabis memakai golongan itu buat meregang kewenangan, Kepala negara Nasser menyiksa mantan teman- temannya. Aksi Gulen pula melaksanakan kekeliruan yang serupa fatalnya dalam memilah federasi. Antara tahun 2006 serta 2011, mereka berkawan dengan Erdogan serta turut membantunya melenyapkan mengerti politik sekuler di Turki. Tetapi, sedemikian itu Erdogan mengkonsolidasikan daya pribadinya, beliau berputar melawan seluruh mantan sekutunya– tercantum pengikut- pengikut Gulen.

Takut dengan persekusi yang dicoba Erdogan kepada aksi mereka, sebagian pengikut Gulen menemui Jenderal Hulusi Pangkal, yang dikala itu berprofesi selaku Kepala Angkatan Bersenjata Turki, selaku orang yang bisa melawan kediktatoran kepala negara Turki. Dapat dibilang, mereka menginginkan sejenis campur tangan tentara kepada Erdogan.

Baca Juga : Penyebab Pemberontak ADF Di Congo Dapat Bertahan di Negara Tersebut

Apakah Pangkal betul- betul berfungsi dalam usaha kudeta 2016 sedang ialah rahasia di Turki. Ia menerangkan ia tidak memiliki kebutuhan apa- apa dalam usaha buat menggelindingkan Erdogan. Pada 2018, Erdogan menghasilkan Pangkal selaku Menteri Pertahanan. Hasilnya, lebih dari 16. 000 opsir tentara dihentikan sebab diprediksi selaku pengikut Gulen.

Pelajaran yang dapat dipetik

Cuma sebagian tahun yang kemudian, IM serta aksi Gulen mempunyai daya buat mewujudkan tujuan utopis mereka dalam membuat kembali warga cocok idealisme mereka. Saat ini, para atasan mereka diasingkan, mati, serta dipenjara. Properti mereka disita, serta reputasinya tercemar. Kemerosotan kedua golongan Islam ini merupakan peringatan untuk kelompok- kelompok agama lain yang mempunyai tekad politik di bumi Orang islam. Berupaya melaksanakan negeri cuma bersumber pada satu visi utopis mengenai warga Islam yang sempurna merupakan upaya yang resiko. Tambahkan faktor otoritarianisme, hingga kesempatan kekalahan hendak meningkat. Seleksi kawan yang salah, hingga akhirnya dapat memadamkan.